Berfoto bersama pembina dengan siswa-siswi
Mar'atus Shalihah, pembina sastra
Kota
Bima (MU) – Lagi lagi, siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Bima berhasil
menerbitkan buku. Kali ini karya sastra berbentuk puisi karya dari siswa-siswi
MAN 2 Kota Bima adalah buku kedua yang dibukukan dan diterbitkan. Buku Antologi
Puisi dengan judul “Jendela Tak Berkaca” merupakan kumpulan puisi dengan mengangkat
berbagai tema. Sebelumnya, buku pertama hasil karya siswa-siswi MAN 2 Kota Bima
berupa Antologi Cerita Pendek dengan judul “Sebuah Janji Untuk Negeri”.
Menulis
adalah sebuah wadah untuk mengaktualisasi diri. Wadah untuk mengekspresikan apa
yang ada di hati dan kepala agar dapat membuka mata dunia. Menulis puisi
bukanlah hal yang mudah. Terbukti hanya sedikit yang mau dan memiliki skill di
bidang ini.
Sebanyak 32 orang siswa-siswi MAN 2
Kota Bima berhasil menorehkan karya puisi miliknya dengan tinta emas sehingga
dapat dimuat dalam buku Antologi Puisi tersebut. Berdasarkan keterangan
Mar’atus Shalihah, SS, pembina sastra MAN 2 Kota Bima, sebenarnya buku Antologi
Puisi “Jendela Tak Berkaca” rencananya akan naik cetak 2 tahun yang lalu,
tetapi karena kondisi yang tak memungkinkan sehingga rencana tersebut terpaksa harus ditunda.
Lebih
lanjut pembina sastra menyatakan bahwa buku Antologi puisi “Jendela Tak Berkaca”
adalah cermin keberanian mengungkapkan kebenaran. Diksi yang digunakan
menunjukkan kekayaan bahasa sampai pada tingkat mustahil dikatakan. Larik-larik
dalam puisi ini merupakan bentuk kegelisahan yang mesti kita bijaki bersama.
Ungkapan jujur dalam bait-bait puisi ini membuka mata dan hati kita untuk
belajar bagaimana memaknai hidup. “Buku
ini bukan mimpi besar saya sebagai pembina. Buku ini hanya batu loncatan. Sebagai
pembina kami hanyalah jembatan kecil
yang dilalui agar sesuatu yang besar dapat dihasilkan. Semoga mereka kelak akan
menjadi penulis-penulis hebat yang akan melahirkan tulisan-tulisan yang semakin
mencerahkan dan dapat bermanfaat untuk banyak orang. Teruslah menulis, yakinlah
suatu saat kalian menjadi pemenang”, ujar guru Bahasa dan Sastra Indonesia
sekaligus pembina sastra MAN 2 Kota Bima ini.
Ada
47 judul puisi karya siswa-siswi yang dimuat dalam buku Antologi Puisi “Jendela
Tak Berkaca adalah sebagai berikut:
1. Pengerat
oleh Yanik Indriani
2. Batas
Suci oleh Yanik Indriani
3. Kisah
Palsu oleh Fitriatun
4. Si
Kecilku yang Malang oleh Fitriatun
5. Sebuah
Janji oleh Fitriatun
6. Kedamaian oleh M.Subhan Indra Guntara
7. Mati
oleh M.Subhan Indra Guntara
8. Bangkit
oleh M.Subhan Indra Guntara
9. Memandang
Wajahmu oleh Husnul Ma’rifah
10. Tanpa-Mu
oleh Husnul Ma’rifah
11. Sepenggal
Kisahku oleh Husnul Ma’rifah
12. Ada
yang Hilang oleh Saqia Nurul Ardianti
13. Perjuangan
untuk Negeri oleh Siti Ainun Jariyah
14. Berpaling
Darinya oleh Suci Safira Putri
15. Detik
Terakhir oleh Akmalyah
16. Piluku
Di Atas Lembaran Putih oleh Iis Jumiarti
17. Jendela
Tak Berkaca oleh Iis Jumiarti
18. Sujud
Terakhirku oleh Iis Jumiarti
19. Antara
Malam dan Mimpi oleh Iis Jumiarti
20. Lelaki
Terhebatku oleh Haerunnufus
21. Apa
Itu Cinta? Oleh Haerunnufus
22. Ada
yang Hilang oleh Amikratunnnisyah
23. Ayah
oleh Nurul Baitullah
24. Menanti
Senja oleh Samiatun Nikmat Juliandari
25. Terpuruk
oleh Lilis Milasari
26. Penantian
Cinta oleh Mar’atus Shalihah
27. Pengorbanan
oleh Dinda Aulia Riska
28. Pengorbananmu
oleh Husnal Ula
29. Ia
Telah Lupa oleh Rindang Tri Madani
30. Dekapan
Hampa oleh Rindang Tri Madani
31. Jalan
Jauh Anakku oleh Ruwaidah Anwar
32. Aku
dan Penyesalanku oleh Ruwaidah Anwar
33. Negeri
Ini Negeri Kita oleh Ruwaidah Anwar
34. Aku
oleh Nuranisah
35. Surat
Cinta untuk Mama oleh Sahrullah
36. Aku
Tak Berbeda oleh Sahrullah
37. Jejak
Kaki yang Tak Terbatas oleh Afidatul Aliyah
38. Rindu
untuk Ayah oleh Santi julianti
39. Cahayaku
oleh M. Ainul Basyirah
40. Yang
Kurindukan oleh Hijriati
41. Berbeda
oleh Nurfikayati
42. Kau
Surgaku oleh Duli Qurratu A’yun
43. Gumpalan
Asap oleh Nur Ayu Annisah
44. Suara
Calon Penghuni Neraka oleh Rahmiatun
45. Pemilik
Hati yang Lapang oleh Than Tie Amirah
46. Bunda
oleh Ita Sopiawati
47. Biarkan
oleh Nurul Baitullah
Yanik
Indriani, siswi kelas XII IPA 3 dengan 2 judul puisi yakni: Pengerat dan Batas
Suci mengaku belajar menulis secara otodidak, apalagi di saat SD ada mata
pelajaran muatan lokal. Ia juga pernah mendapatkan penghargaan khusus dari Walikota
Bima ketika membawakan pidato bahasa Inggris di kantor Walikota Bima. Saat duduk
di bangku MTsN 1 Kota Bima, kegiatan yang berkaitan dengan kepenulisan sempat
vakum. Setelah bersekolah di MAN 2 Kota Bima, ia mulai menulis puisi. Apalagi pembinaan sastra
di MAN 2 Kota Bima sungguh luar biasa. Bakat alaminya semakin terasah. Siswi
yang bercita-cita menjadi dokter dan peneliti bidang Kimia ini berpesan kepada
teman-teman seusianya bahwa jangan pernah malu selama masih ada dalam lingkup
yang baik.
Husnul
Ma’rifah, siswi kelas XII IPA 4 dengan 3 judul puisi yakni: Memandang Wajahmu, Tanpa-Mu
dan Sepenggal Kisahku ini adalah pengagum berat penulis Tere Liye. Di saat SD,
ia tak punya pengalaman terkait dunia kepenulisan, hanya membaca puisi di depan
kelas. Awalnya ia belajar menulis karena terpaksa dikarenakan tugas-tugas sekolah
pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
di bawah bimbingan Mar’atus Shalihah. Bakat alaminya pun kian terasah. Ia berpesan
kepada teman-teman yang suka menulis bahwa menulis itu suatu kebutuhan. Menulis
adalah bekerja untuk keabadian seperti yang dinyatakan oleh Pramoedya Ananta
Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia
akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk
keabadian”. (Nurrosyidah Yusuf)





































